Unit Usaha

PG Sindanglaut

 

PG Sindanglaut berdiri tahun 1896 dengan nama “Singdanglaoet” oleh NV. Mij Tot Exploitatie der Suiker fabriek “Sindanglaoet” dan berkantor direksi di Jakarta dengan nama CV Waller & Plato. Ditahun yang sama berdiri pula PG Karangsuwung dengan nama “Karangsoewoeng” oleh NV. Mij Tot Exploitatie der Suiker fabriek “Karangsoewoeng” dengan Kantor Direksi NV. Koey & Coester van Voerhout. Pada tahun 1937 berdiri pula PG Tersana Baru dengan nama “Nieu Tersana” oleh perusahaan swasta milik kerajaan Belanda, yaitu NV. Landbouw Mij Tersana dengan Kantor Pusat di Bandung dan Jakarta dengan nama NV. Cultuur Mij Parakan Salak. Ketiga pabrik tersebut merupakan bagian dari beberapa perusahaan perkebunan milik Belanda baik perorangan maupun badan hukum.

 

PG Tersanabaru

 
Setelah Perang Dunia II, sebagian besar pabrik gula mengalami rusak berat dan ditinggalkan pemiliknya sehingga dimanfaatkan serta dikuasai langsung oleh masyarakat. Pada jaman pendudukan Jepang (1942 – 1945), semua pabrik gula milik asing (termasuk pabrik gula Belanda) diambil alih dan dikuasai oleh militer Jepang yang bernama Gunsiekanbu. Memasuki periode Pasca Kemerdekaan (1945 – 1949), Badan-badan yang melakukan pengurusan perusahaan gula, baik yang meneruskan pekerjaan badan-badan yang dibentuk pemerintah Jepang maupun yang didirikan sesudah perusahaan-perusahaan gula ditinggalkan Jepang, dihapuskan/dibubarkan dan dilebur dalam satu badan hukum disebut Badan Penyelenggaraan Perusahaan Gula Negara (BPPGN ) yang menjalankan dan mengelola perusahaan gula.

 

PG Jatitujuh

 
Pada tahun 1971, Pemerintah Indonesia mengadakan kerjasama dengan Bank Dunia membentuk Sugar Study (ISS) dalam rangka swasembada gula. Salah satu program adalah mencari areal baru yang berorientasi pada lahan kering.
Hasil survey yang dilakukan pada tahun 1972-1975, menyatakan areal BPKPH Jatitujuh, Kerticala, Cibenda, dan Jatimunggul cocok untuk pertanaman tebu sehingga pada tanggal 9 Agustus 1975 dikeluarkan SK Mentan No. 795/VI/1975 tentang izin prinsip pendirian pabrik gula di Jatitujuh yang dikenal dengan nama “PROYEK GULA JATITUJUH” dan diikuti SK Mentan No. 654/Kpts/UM/76 tanggal 9 Agustus 1976 berisi tentang dikeluarkannya kawasan hutan Jatitujuh, Kerticala, Cibenda dan Jatimunggul seliuas 12.022,50 hektar untuk dicadangkan kepada PT Perkebunan XIV guna penanaman tebu dan pendirian bangunan serta fasilitas dalam rangka pembangunan Proyek Pabrik Gula Jatitujuh.
Pada tahun 1977-1978 dibangun pabrik gula yang ditangani oleh Kontraktor Perancis Fives Cail babcock (FCB) dan diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia H.M. Soeharto pada tanggal 5 September 1980 dengan pengelola PT Perkebunan XIV (PNP XIV).
Pada tahun 1989, dengan tujuan untuk meningkatkan produksi dan manajemen, PG Jatitujuh yang berlokasi di desa Sumber, Majalengka atau 78 Km dari kota Cirebon ke arah barat, diambil alih oleh PT Rajawali Nusantara Indonesia.

PG Subang

 
PT. PG. Rajawali II Unit PG. Subang terletak di blok Cidangdeur, Desa Pasirbungur, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Subang, Jawa Barat, dengan posisi ± 25 km dari kota Subang ke arah barat dan ± 15 km ke arah Sukamandi (Jalur Pantura). Lokasi ini dipilih sebagai tempat pabrik karena 75% areal kebun tebu terletak di daerah ini sehingga akan lebih memudahkan proses transportasi tebu ke pabrik. Areal perkebunan tebu PG. Subang memiliki luasan 5.669 ha, dengan lahan seluas 660 ha merupakan lahan sewa dan lahan seluas 184 ha adalah lahan tebu rakyat bebas.
Secara geografis, kedudukan PG. Subang dan areal perkebunannya terletak diantara 107°41°16° BT sampai 107°41°18° BT dan 6°24°46° LS sampai 6°24°48° LS, dengan ketinggian 31-33 m diatas permukaan laut. Daerah PG. Subang merupakan daerah datar sampai bergelombang dengan kemiringan 3-10%.
Areal PG. Subang semula merupakan tanaman karet eks PTP XXX. Kondisi areal tersebut didasarkan pada instruksi Menteri Pertanian No. 13/UNS/UM/1976 tanggal 29 Juni 1976, dimana disebutkan dalam diktum 26 pertama ayat 4, yang bunyinya adalah “sebagai pengganti komoditi karet agar diadakan penelaahan tentang komoditi tebu dengan memperhatikan aspek teknis, ekologis, dan sosial ekonomi”. Untuk merealisasikan SK Menteri tersebut, maka PPIG (Proyek Pengembangan Industri Gula) bekerjasama dengan PTP XXX untuk melakukan penelitian penanaman tebu di areal PG. Subang. Melalui hasil penelitian PPIG serta rekomendasi para ahli yang berwenang, hasil penelitian di PG Subang dapat dipertanggungjawabkan secara ekologis. Kemudian antara tahun 1978-1979 dimulai tahap pelaksanaan konversi tanaman karet ke tanaman tebu. Pada saat itu tebu yang dihasilkan dikirimkan ke PG. Tersana Baru, Cirebon untuk dilakukan penggilingan.
Berdasarkan SK menteri No. 68/Menteri-X/1978 tanggal 14 Oktober 1978 pengelolaan PG. Subang yang terdiri dari kebun Pasir Bungur, Pasir Muncang, dan Manyingsal sepenuhnya diserahkan kepada PT. Perkebunan XIV. Pada tahun 1981, dimulai pembangunan fisiknya yang ditegaskan dalam surat Menteri Pertanian No. 667/KPTS/8/1981 tertanggal 11 Agustus 1981. Giling pertama PG. Subang adalah pada tanggal 3 Juli 1984 dan berakhir tanggal 18 Oktober 1984, dengan total tebu sejumlah 1.122.716 kuintal dari keseluruhan jumlah tebu 2.135.628 kuintal. Pada saat pabrik berdiri atau produksi belum lancar, tebu PG. Subang digiling di PG lain di PTP XIV.
Sejalan dengan pengalihan manajemen PT Perkebunan XIV kepada RNI (Rajawali Nusantara Indonesia) berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 1326/MK 013/1988, maka sejak saat itu pengelolaan PG Subang dilakukan oleh PT. RNI dan modal perusahaan berasal dari perusahaan itu sendiri.

 

PSA Palimanan

 
Pabrik Spiritus dan Arak (PSA) Palimanan didirikan tahun 1883 dengan nama “Gist and Spiritus Fabriek Palimanan” adalah anak perusahaan dari NV Aments Suikerfabrieken (pemilik PG Gempol) didirikan dengan maksud untuk mengolah molassess dari PG Gempol. Perlu diketahui bahwa PG Gempol yang didirikan tahun 1847 merupakan salah satu unit operasional pabrik gula PT PG Rajawali II yang tidak beroperasi lagi atau sudah ditutup sejak tahun 1996.

 

PT Inti Bagas Perkasa

 
PT Inti Bagas Perkasa berdiri tahun 2005, Sementara anak perusahaan PT PG Rajawali II yaitu PT Inti Bagas Perkasa (IBP) terletak di daerah Jatiwangi yang bergerak di bidang perindustrian, diantaranya memproduksi kanvas rem non asbestos dengan memanfaatkan bahan baku ampas tebu dan merupakan upaya pengembangan perusahaan untuk memperoleh added value melalui zero waste dan by product. Selain penyediaan suku cadang kendaraan bermotor, PT. IBP juga memproduksi perkakas dan perabotan, industri pabrikasi, peralatan teknik dan mekanik serta menjalankan usaha di bidang perdagangan, ekspor dan impor

 

Puslit Agro 

 
Sebagai salah satu unit non profit yang berlokasi di PG Jatitujuh, Unit Research & Development PT. PG Rajawali II mempunyai tugas untuk melakukan riset dan pengembangan khususnya dalam bidang tanaman, yaitu mengembangkan pembibitan dan mencari varietas-varietas unggul tanaman tebu dalam memenuhi kebutuhan unit-unit usaha dilingkungan PT. PG Rajawali II. Selain itu Unit R & D diarahkan sebagai training centre bagi karyawan atau tempat pembelajaran dan pelatihan karyawan agar mampu mengembangkan diri dalam mengaplikasikan pengetahuannya ditempat dimana dia bekerja.
Sebagai salah satu unit non profit yang berlokasi di PG Jatitujuh, Unit Research & Development PT. PG Rajawali II mempunyai tugas untuk melakukan riset dan pengembangan khususnya dalam bidang tanaman, yaitu mengembangkan pembibitan dan mencari varietas-varietas unggul tanaman tebu dalam memenuhi kebutuhan unit-unit usaha dilingkungan PT. PG Rajawali II. Selain itu Unit R & D diarahkan sebagai training centre bagi karyawan atau tempat pembelajaran dan pelatihan karyawan agar mampu mengembangkan diri dalam mengaplikasikan pengetahuannya ditempat dimana dia bekerja.

 

Apotek Raja Farma 

 
Apotek Raja Farma didirikan tahun 2004 dengan tujuan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan bagi bagi karyawan perusahaan dan masyarakat di lingkungan pabrik gula PT PG Rajawali II. Untuk memberikan pelayanan yang baik terhadap karyawan dan masyarakat, Apotek Raja Farma membuka praktek dokter bersama seperti : dokter umum dan dokter spesialis, disamping itu juga membuka laboratorium klinik.